Sabtu, 13 November 2010

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perbedaan Pola Berkemih

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perbedaan Pola Berkemih
1. Usia
Bayi atau anak kecil dengan usia sampai 18-24 bulan tidak mampu mengontrol secara volunteer. Pada usia remaja dan dewasa, sudah dapat mengontrol berkemih secara volunteer.
Pada Lansia, frekuensi berkemih dan volume urine meningkat. Hal ini karena terjadi penurunan kemampuan tonus otot dan daya tampung.

2. Obat-obatan
Diuretik mencegah reabsorpsi air dan elektrolit tertentu untuk meningkatkan keluaran urine. Retensi urine dapat disebabkan oleh pemakaian beberapa obat, seperti atropin, sudafed dll.

3. Suhu
Suhu rendah merangsang peningkatan frekuensi berkemih. Karena pada suhu dingin, sekresi keringat oleh tubuh berkurang.

4. Psikologis
Ansietas dan cemas dapat meningkatkan frekuensi berkemih. Selain itu, ansietas dan cemas juga dapat memngakibatkan berkemih tidak tuntas (masih terdapat sisa urine di kandung kemih).

5. Asupan nutrisi dan cairan
a. Minuman
Alkohol dapat menghambat pelepasan ADH, sehingga dapat meningkatkan produksi urine.
Kopi, teh, cokelat, dan cola yang mengandung cafein dapat meningkatkan produksi urine.
b. Makanan
Makanan yang banyakmengandung cairan (buah dan sayur) dpt meningkatkan produksi urine.

6. Kondisi penyakit
Pasien demam mengalami penurunan produksi urine karena pasien demam mengalami banyak pengeluaran sejumlah bsar cairan yang tak kasat mata.

7. Prosedur bedah
Klien bedah sering memiliki perubahan keseimbangan cairan sebelum menjalani pembedahan yang diakibatkan oleh proses penyakit/ puasa pasca operasi yang mempengaruhi pengeluaran urine.

8. Pemeriksaan diagnostik
Beberapa px diagnostik tidak memperbolehkan pasien untuk minum dan makan sebelum dilakukan px. (ex. Pielogram intravena dan urogram).
Px sistoskopi beresiko menyebabkan retensi urine.

9. Jenis kelamin
Kapasitas kandung kemih wanita antara 400 – 500 ml, sedangkan pria antara 300 – 600 ml.
Frekuensi berkemih wanita lebih sering dibanding laki-laki, hanya saja volume urine yang dikeluarkan sekali berkemih oleh wanita lebih sedikit di banding laki-laki.

10. Respon keinginan awal untuk berkemih
Kebiasaan mengabaikan keinginan awal untuk berkemih menyebabkan urine banyak tertahan di dalam urinaria sehingga mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah urine.

11. Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi dalam kaitannya terhadap tersedianya fasilitas toilet. Kadang individu malas berkemih di kamar mandi umum.

12. Tingkat aktifitas
Eliminasi urin membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi sfingter. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun dan kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktifitas.

13. Sosiokultural
Misalkan adanya aturan pada masyarakat untuk tidak diperkenankan untuk BAK di tempat dan waktu tertentu.

14. Kebiasaan seseorang
Misalkan kebiasaan berkemih di toilet mengalami kesulitan berkemih menggunakan urinal/pispot/melalui kateter.

15. Tonus otot
Yang memiliki peran penting dalam memnbantu proses berkemihotot kandung kemih, otot abdomen dan pelviskontraksi pengontrolan pengeluaran urine.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar